Merealisasikan (Mimpi) Asuransi Bencana

Dimuat di Koran Seputar Indonesia, 20 Desember 2016. Perlunya asuransi bencana di Indonesia bukan ide baru. Pemerintah pernah mewacanakan, bahkan kajian telah dilakukan Kementerian Keuangan. Sayangnya ide tersebut tak terealisasi. Ide asuransi bencana timbul tenggelam.

Pascabencana, ide itu muncul kembali. Tak terkecuali saat gempa bumi mengoyak bumi Serambi Mekkah beberapa hari lalu. Para keluarga korban tak hanya kehilangan nyawa, luka badan, rumah dan propertinya yang hancur, tetapi penderitaan. Meskipun bantuan sigap datang dari pemerintah dan masyarakat, tetapi seharusnya ada sistem asuransi seperti praktik-praktik negara lain.

Songsong Wajah Baru Industri Asuransi Umum

Awal tahun 2014, industri asuransi umum Indonesia mendapatkan kado istimewa dari Otoritas Jasa Indonesia (OJK). Kado itu berupa tarif baru untuk lini asuransi harta benda dan kendaraan bermotor. Termasuk tarif untuk risiko banjir, gempa bumi, letusan gunung, dan tsunami. Aturan yang tertuang dalam SE OJK No. 06/D.05/13 tanggal 31 Desember 2013 tak hanya mengatur tarif, tetapi juga besaran komisi dan diskon.

Pengaturan tarif nyaris hanya mimpi. Penantian panjang itu kini menjadi kenyataan. Tarif ini diharapkan mengakhiri kegalauan industri asuransi umum setelah bertahun-tahun didera persaingan banting harga tanpa ujung. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) pernah berusaha mengatur tarif banjir pada bulan Maret 2013. Namun disemprit oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Tarif baru OJK kali ini telah direstui oleh KPPU karena yang mengatur adalah regulator, bukan pemain industri.

 

Mengasuransikan Masyarakat Bawah

Dimuat di majalah Infobank edisi November 2013. Preminya tak lebih mahal dari sebungkus rokok, Rp10 ribu. Tapi manfaatnya besar. Bila terkena musibah, pemegang polis bisa mendapat manfaat Rp10 juta. Ituasuransi mikro.

Besaran premi variatif. Tergantung dari jenis produk dan nilai pertanggungan/santunan. Periode jaminan asuransi juga ada yang tiga bulan, enam bulan, atau bahkan tak teratur waktunya. Jenis produknya macam-macam seperti asuransi untuk penyakit tertentu, asuransi kecelakaan diri, asuransi kebakaran, asuransi gempa bumi, dan lainnya.

Tak hanya preminya yang ringan, menurut Thorburn (2009), ada lima hal yang membedakan antara asuransi mikro dengan asuransi konvensional. Kelima hal itu adalah dari sisi pembayaran premi yang sering dan tidak reguler, polis yang mudah dipahami, proses klaim yang simpel dan cepat, jalur distribusi oleh agen yang umumnya tak berlisensi yang menjangkau masyarakat bawah, dan kontrol yang efisien saat seleksi risiko dan klaim.

Yang Muda Yang Berasuransi

Dimuat di Koran Kontan, 18 Oktober 2013. Jelang insurance day yang diperingati setiap tanggal 18 Oktober, ada dua berita asuransi yang menyedot perhatian publik. Pertama tentang penolakan klaim yang diajukan musisi Ahmad Dhani pada perusahaan asuransi jiwa. Kedua terkait dengan gonjang-ganjing AJB Bumiputera 1912. Kedua persoalan tersebut memaksa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun tangan.

Kedua berita tersebut cenderung bernilai negatif untuk industri asuransi. Kasus pertama menguatkan sebagian asumsi masyarakat umum bahwa perusahaan asuransi berusaha mencari alasan menolak klaim. Meskipun sejatinya tak demikian. Ini masalah klise, yakni persoalan pemahaman terhadap polis. Sedangkan pada kasus kedua dapat mempengaruhi persepsi publik tentang kelangsungan perusahaan asuransi berbentuk usaha bersama (mutual).
Namun ada nuansa positif yang ditimbulkan kedua kasus tersebut. Pertama, industri asuransi makin dikenal masyarakat. Kedua, ada pesan yang tersampaikan bahwa masyarakat perlu jeli di dalam memilih perusahaan asuransi dan memahami isi polis.