Yang Muda Yang Berasuransi

Dimuat di Koran Kontan, 18 Oktober 2013. Jelang insurance day yang diperingati setiap tanggal 18 Oktober, ada dua berita asuransi yang menyedot perhatian publik. Pertama tentang penolakan klaim yang diajukan musisi Ahmad Dhani pada perusahaan asuransi jiwa. Kedua terkait dengan gonjang-ganjing AJB Bumiputera 1912. Kedua persoalan tersebut memaksa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun tangan.

Kedua berita tersebut cenderung bernilai negatif untuk industri asuransi. Kasus pertama menguatkan sebagian asumsi masyarakat umum bahwa perusahaan asuransi berusaha mencari alasan menolak klaim. Meskipun sejatinya tak demikian. Ini masalah klise, yakni persoalan pemahaman terhadap polis. Sedangkan pada kasus kedua dapat mempengaruhi persepsi publik tentang kelangsungan perusahaan asuransi berbentuk usaha bersama (mutual).
Namun ada nuansa positif yang ditimbulkan kedua kasus tersebut. Pertama, industri asuransi makin dikenal masyarakat. Kedua, ada pesan yang tersampaikan bahwa masyarakat perlu jeli di dalam memilih perusahaan asuransi dan memahami isi polis.  

 

Yang tidak diinginkan, jangan sampai kedua berita besar terkait asuransi tersebut menjadikan masyarakat mengambil jarak dengan asuransi. Upaya literasi keuangan/asuransi yang didengungkan regulator dan pelaku industri bakal sia-sia. Masyarakat tak cukup hanya diajak berasuransi, tetapi harus diajak dan diajari memahami isi polis.

Tak henti-hentinya kampanye dan edukasi dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan/asuransi. Di industri asuransi, motornya adalah Dewan Asuransi Indonesia (DAI), asosiasi perasuransian, dan perusahaan asuransi (umum, jiwa, dan sosial) yang didukung penuh OJK.

Di peringatan insurance day tahun ini pun terus mengajak masyarakat untuk berasuransi. Kali ini targetnya adalah mereka yang masih muda, usia 18-25 tahun. “Selagi Kamu Muda, Mari Berasuransi”, itulah tema tahun ini.
Menyasar kaum muda sudah dilakukan prosesnya sejak lama oleh DAI. Aktifitas insurance goes to campus sudah terlaksana di beberapa kampus di Indonesia yang melibatkan industri asuransi komersial dan sosial. Khusus tahun ini, ada pemilihan Mizz & Mazz Asuransi Indonesia 2013. Mirip ajang Abang-None yang dibungkus dengan kriteria pengetahuan perasuransian.

Potensi dan Sasar Efek Jangka Panjang
Setidaknya ada tiga alasan utama justifikasi mengapa kaum muda harus digarap. Pertama, Indonesia memiliki demografi deviden yang mendorong berkembangnya industri asuransi jiwa (Sugiharto, 2013). Dengan populasi lebih dari 240 juta jiwa, lebih dari 60% penduduk Indonesia di bawah usia 39 tahun. Pangsa pasar kaum muda sangat menggiurkan untuk digarap.

Kedua, upaya penyadaran asuransi sejak awal akan memberikan efek jangka panjang. Sadar asuransi sejak usia muda akan terus terbawa puluhan tahun hingga akhir hayat. Kelak, kesadaran berasuransi ini akan diwariskan, baik secara langsung maupun tidak, kepada anak-anak mereka.

Ketiga, potensi jenis/produk asuransi cukup banyak tersedia dan cocok untuk kaum muda. Ada asuransi kesehatan, asuransi jiwa (dan unit link), asuransi kecelakaan diri anak sekolah/kuliah, asuransi perjalanan, asuransi kendaraan bermotor, asuransi rumah, dan lainnya.

Banyak eksekutif muda atau setidaknya yang baru dapat gawe yang sudah memiliki uang sendiri. Mereka perlu didekati untuk dapat merencanakan keuangan dan mentransfer risikonya ke perusahaan asuransi. Setidaknya mengatur finansial mereka agar uang hasil jerih payahnya tidak hanya digunakan untuk keperluan konsumtif, bahkan foya-foya selagi muda.

Kemasan Khusus
Meskipun targetnya jelas untuk kaum muda, tetapi tak cukup dengan sosialisasi dan penyadaran. Perlu perlakuan khusus agar upaya menggaet kaum muda ini lebih sukses. Pertama dengan membuat produk yang khusus didesain buat mereka. Ini bisa belajar dari operator seluler atau produsen mobil yang mengkhususkan produk tertentu untuk anak-anak muda. Esensinya masih sama yakni proteksi.

Yang kedua adalah perlu ada yang menyasar segmen ritel, bahkan mikro. Preminya ringan yang bisa disisihkan dari uang saku. Bila sejak kecil kita sudah dibiasakan untuk menabung dari uang saku, tentu sangat mungkin bisa dirayu dan disadarkan untuk menyisihkan sebagian uang saku untuk bayar premi asuransi.

Ketiga, perlunya jalur distribusi kreatif yang khas dekat anak muda. Tak cukup menggunakan jalur distribusi konvensional seperti perbankan, broker, atau agen. Jalur distribusi ini relatif jauh dari anak muda. Ciri dari anak muda adalah memiliki komunitas dalam menyalurkan hobby dan bakatnya. Bila di asuransi mikro menggunakan jalur distribusi Indomaret atau Alfamart, khusus sasar anak muda bisa melalui tempat nongkrong yang digandrungi seperti 7-eleven, kafe, atau komunitas anak muda.

Model pemasaran dan produk yang dikemas khusus untuk anak muda menjadikan asuransi tak dibayangkan menjadi serius, mahal, dan hanya urusan orang tua. Itulah citra yang selama ini menempel di benak masyarakat. Tetapi asuransi bisa tampil fun, murah, dan ada juga loh yang produknya khusus buat anak muda.

*****
Munawar Kasan
Praktisi asuransi dan pendiri Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi).

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh