Mengasuransikan Masyarakat Bawah

Dimuat di majalah Infobank edisi November 2013. Preminya tak lebih mahal dari sebungkus rokok, Rp10 ribu. Tapi manfaatnya besar. Bila terkena musibah, pemegang polis bisa mendapat manfaat Rp10 juta. Ituasuransi mikro.

Besaran premi variatif. Tergantung dari jenis produk dan nilai pertanggungan/santunan. Periode jaminan asuransi juga ada yang tiga bulan, enam bulan, atau bahkan tak teratur waktunya. Jenis produknya macam-macam seperti asuransi untuk penyakit tertentu, asuransi kecelakaan diri, asuransi kebakaran, asuransi gempa bumi, dan lainnya.

Tak hanya preminya yang ringan, menurut Thorburn (2009), ada lima hal yang membedakan antara asuransi mikro dengan asuransi konvensional. Kelima hal itu adalah dari sisi pembayaran premi yang sering dan tidak reguler, polis yang mudah dipahami, proses klaim yang simpel dan cepat, jalur distribusi oleh agen yang umumnya tak berlisensi yang menjangkau masyarakat bawah, dan kontrol yang efisien saat seleksi risiko dan klaim.

 

Asuransi mikro memang didesain berbeda dengan asuransi pada umumnya. Keluar dari pakem-pakem transaksi asuransi secara umum. Selama ini sudah menjadi asumsi masyarakat bahwa asuransi berciriprosedur akseptasi yang rumit, bahasa polis yang sulit, atau klaim yang berbelit.

Segmentasi asuransi mikro khusus untuk masyarakat berpenghasilan dan berpendidikan relatif masih di bawah rata-rata. Jaringan distribusi bisa melalui mini market, kerja sama dengan bidan, melalui RT/RW, dan lainnya. Juga pengaktifan polis yang sangat mudah.

Selama ini asuransi nyaris tak menyentuh masyarakat berpenghasilan rendah. Setidaknya ada tiga penyebab dasar. Pertama, belum banyak produk perusahaan asuransi umum dan jiwa yang dikhususkan untuk segmen masyarakat bawah. Kedua, masyarakat belum tahu manfaat asuransi. Ketiga, dukungan pemerintah/regulator masih minim pada produk asuransi untuk masyarakat kalangan bawah.

 Kehadiran asuransi mikro menunjukkan bahwa asuransi bukan hanya untuk masyarakat kalangan atas/mampu. Asuransi tak harus (terkesan) mahal. Premi bisa didesain sangat terjangkau. Disesuaikan juga cara pembayaran dan periode asuransi. Jika premi sudah sangat ringan dan manfaatnya jelas, apalagi yang membuat masyarakat tak tertarik asuransi?

Potensi besar dan investasi jangka panjang

Lembaga asing sangat peduli tentang proteksi asuransi untuk masyarakat kalangan bawah. UNDP dan Gessellschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ) dari Jerman adalah sebagian contoh yang sangat peduli pada asuransi mikro. Di Indonesia, berdasarkan penelitian Allianz, GTZ, dan UNDP (2006), ada permintaan yang kuat untuk asuransi mikrodi beberapa wilayah di Indonesia. Jenis asuransi yang dibutuhkan adalah asuransi kesehatan untuk penyakit serius, pendidikan anak, dan gagal panen (Allianz, GTZ, & UNDP, 2006; Lloyd’s, 2010).Hasil penelitian itu tentu saja cukup mengagetkan karena ternyata masyarakat kecil di Indonesia juga butuh asuransi.

Menurut Bank Dunia (2011), ada 77 juta rakyat Indonesia yang tidak memiliki proteksi finansial. Artinya bila terjadi risiko yang mengancam secara finansial, misalnya rumah terkena gempa bumi, maka kerugian tersebut akan ditanggung sendiri. Tanpa ada institusi yang secara kontraktual akan memberikan kontribusi.

Kondisi rendahnya penetrasi asuransi (prosentase premi terhadap produk domestik bruto)  dapat dilihat dari kajian tahunan Swiss Re (2013). Penetrasi asuransi di Indonesia tahun 2012 hanya 1,77%. Indonesia berada di urutan ke-64 di dunia. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lain seperti Singapura (6,03%), Thailand (5,02%), atau Malaysia (4,80%). Indonesia hanya lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam (1,42%) dan Filipina (1,40%).

Memperkenalkan asuransi mikro kepada masyarakat bawah adalah investasi jangka panjang. Selain perolehan premi dari sektor mikro ini, asuransi akan makin dikenalmasyarakat secara sangat luas. Imbasnya, pengetahuan masyarakat tentang asuransi akan terkerek naik. Akan terjadi efek domino.

Bagi perusahaan yang sudah memiliki produk asuransi mikro, akan memiliki keunggulan. Lebih dahulu dikenal. Ketika masyarakat kalangan bawah ini butuh, maka akan menghubungi perusahaan asuransi yang sudah dikenalnya. Masyarakat sudah mengenal asuransi ini kemudian mewariskan secara turun-temurun. Ketika ekonomi membaik dan anak-anak mereka sudah terangkat secara ekonomi, mereka akan membutuhkan asuransi. Saat kemakmuran dan daya beli lebih baik,dampaknya akan menaikkan premi bagi industri asuransi.

Tak banyak perusahaan asuransi yang tertarik asuransi mikro karena memandang preminya sangat kecil. Dianggap tak sebanding dengan upaya keras mulai dari membuat produk, mengurus perizinan ke regulator, menyiapkan sistem, kerja sama jalur distribusi, promosi, dan lainnya. Pertimbangan cost & benefit jangka pendek lebih mengemuka. Terlebih telah disadari bahwa untuk menyadarkan masyarakat itu bukan persoalan mudah. Alasan ini bisa dipahami karena perusahaan asuransi itu bisnis dengan kalkulasi untung-rugi.

Namun kini, banyak perusahaan asuransi yang memiliki produk asuransi mikro. Data Seadi (2013) menunjukkan setidaknya perusahaan 11 perusahaan asuransi komersial telah memasarkannya. Diantaranya untuk asuransi jiwa ada Allianz Life, MNC Life, Bringin Life Syariah, Bumiputera, Takaful Keluarga, Jiwasraya, dan Prudential. Sedangkan perusahaan asuransi umum antara lain Wahana Tata, ACA, Chartis, dan Jasindo. Kegairahan menggarap asuransi mikro bakal mampu mengerek penetrasi asuransi.

Industri keuangan di Indonesia masih didominasi oleh bank. Peran asuransi masih sangat kecil. Data Biro Riset Infobank (2013), perbandingan aset bank dibandingkan industri keuangan nonbank (IKNB) di Indonesia adalah 78,24% untuk bank dan 21,76% IKNB. Beberapa negara lain, prosentase aset IKNB lebih besar dibandingkan di Indonesia seperti di Jepang 40%, Korea Selatan 30% dan Malaysia 30,5% (Sinaga, 2013). Dalam jangka panjang, ketika asuransi mikro ini sukses dengan efek dominonya, bakal mengerek kontribusi IKNB pada industri keuangan Indonesia.

Faktor Sukses & akselerasi program

Tantangan asuransi mikro sangat besar. Terutama terkait proses penyadaran. Namun industri asuransi Indonesia sudah berpengalaman panjang mengerek kesadaran masyarakat Indonesia. Ini modal besar untuk menyukseskan program asuransi mikro.

Asuransi mikro kali ini bisa mendulang sukses dibandingkan masa sebelumnya. Kini, perusahaan asuransi lebih siap di dalam menyiapkan produk dan sekaligus jalur pemasaran/distribusinya. Selain itu juga beberapa perusahaan asuransi dapat belajar dari perusahaan lainnya yang lebih dahulu terjun di asuransi mikro.

Kesuksesan program asuransi mikro kal ini juga ditopang oleh adanya dukungan kuat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada tanggal 17 Oktober 2013 ini OJK meluncurkan program asuransi mikro. Tak hanya itu, faktor lain pendorong kesuksesan adalah adanya sinergi distribution channel dari lembaga keuangan mikro yang juga di bawah pengawasan OJK. OJK dapat all out dalam mengerahkan dan mengarahkan sinergisitas industri keuangan untuk kesuksesan asuransi mikro.

Penulis optimis asuransi mikro bakal berkembang. Namun perlu akselerasi. Setidaknya ada empat faktor yang akan menjadi kunci untuk mengakselerasi perkembangan asuransi mikro di Indonesia. Pertama, OJK dapat mewajibkan perusahaan asuransi yang memiliki aset atau premi tertentu (besar) untuk memasarkan produk asuransi mikro. Perusahaan asuransi besar itu perlu untuk peduli dengan masyarakat kecil. Bila perlu, diwajibkan ada sejumlah prosentase tertentu dari total premi perusahaan asuransi besar harus disumbanng dari produk asuransi mikro.

            Kedua, merealisasikan keinginan pelaku industri asuransi tentang insentif pajak bagi perusahaan yang menjual produk asuransi mikro. Ini akan menjadi faktor penarik perusahaan asuransi. Ketiga, mengkonverasi sebagian corporate social responsibility (CSR) perusahaan asuransi ke dalam bentuk paket asuransi mikro. Ini dapat dilakukan dengan misalnya memberikan subsidi premi, biaya sosialisasi/promosi, atau lainnya.

Faktor akseleratif keempat adalah daya tarik Indonesia di era Asean Insurance Community 2015 harus dimanfaatkan dengan mensyaratkan perusahaan asuransi asing yang masuk ke Indonesia untuk memiliki program asuransi mikro. Perusahaan asing harus turut kontribusi mendidik dan sekaligus peduli masyarakat bawah Indonesia. Mereka tak hanya boleh mengeruk untung dengan potensi besar premi di Indonesia, tetapi juga diwajibkan peduli masyarakat kecil.

 

***

Munawar Kasan

Praktisi asuransi dan pendiri Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi).

Add comment


Security code
Refresh