Penguatan Manajemen Risiko di Sektor Publik

Kasus-kasus kerugian besar di Indonesia teridentifikasi salah satu faktor penyebabnya adalah lemahnya manajemen risiko. Contohnya, hajatan mudik lebaran yang tiap tahun digelar, selalu memakan korban yang tidak sedikit. Pun terjadi di mudik tahun ini dengan kehebohan kasus ‘Brexit’. Juga kasus banjir dan macet di kota besar yang masih terus terjadi, akumulasi kerugiannya sangat besar.

Apakah manajemen risiko tak diterapkan? Penulis yakin sudah ada manajemen risikonya. Tetapi lemah dan/atau masih silo-based (tak terintegrasi). Butuh upaya penguatan, salah satunya melalui praktik enterprise risk manaement (ERM).

Urgensi Sentuhan Manajemen Risiko Mudik

 

 

 

Prihatin. Kata itu yang muncul menyaksikan angka kecelakaan mudik lebaran 2012. Tapi, tak cukup dengan keprihatinan. Butuh aksi nyata pihak-pihak yang terlibat dalam selebrasi lebaran tersebut.
Data kepolisian mencatat korban jiwa mencapai 908 orang, luka berat 1.505 orang dan luka ringan 2.139 selama 11-26 Agustus 2012. Kerugian material sebesar Rp11,8 miliar lebih  (Bisnis Indonesia, 28 Agustus 2012).
Ada dua hal yang menyedihkan. Pertama, jumlah kecelakaan dan korbannya meningkat dibandingkan tahun lalu. Kedua, ritual mudik adalah rutinitas tahunan yang seharusnya bisa dikelolah dengan baik. Seolah tidak belajar dari peristiwa serupa sebelumnya.

Manajemen Risiko, Buat Apa?

Dimuat di majalah Warta ASEI edisi tahun 2012.

Bicara tentang manajemen risiko, kasus pailit PT. Telkomsel adalah contoh paling hangat yang sangat menarik. Bagaimana bisa kasus hutang hanya senilai Rp5,3 miliar membuat Telkomsel dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Lihat saja, nilai hutang tersebut sangat kecil dibandingkan dengan laba Telkomsel di tahun 2011 sebesar Rp12,82 triliun. Apalagi dibandingkan dengan asetnya Rp58,72 triliun di tahun lalu.

Artikel ini tidak membahas kasus hukum, tetapi bagaimana memandang krusialnya mengelola risiko. Sekecil apapun risiko, berpotensi berdampak buruk bagi organisasi. Pengabaian manajemen risiko dapat melahirkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan dengan upaya kecil yang seharusnya dilakukan. Itu bisa kita jumpai, misalnya, dari kasus kecelakaan mudik tahun ini yang merenggut lebih dari 900 jiwa. Peran manajemen risiko makin terasa ketika menghadapi situasi krisis. Negara-negara dan perusahaan-perusahaan di zona Eropa saat ini sedang menguji keampuhan manajemen risikonya menghadapi krisis.

Urgensi Penerapan Manajemen Risiko di Industri Asuransi

 Dimuat di Koran Bisnis Indonesia, 2 Mei 2006.

Dunia asuransi sudah sangat identik dengan manajemen risiko. Maklum, asuransi adalah salah satu teknik di dalam manajemen risiko. Perusahaan asuransi adalah perusahaan yang menerima pengalihan risiko dari tertanggung. Sehingga aktifitas keseharian perusahaan adalah mengelola risiko pihak lain.

Namun hingar bingar pelaksanaan manajemen risiko di dunia perbankan di tanah air, tidak serta merta merembet ke industri asuransi. Pemerintah, melalui Bank Indonesia (BI), mewajibkan bank umum menerapkan manajemen risiko. Peraturan BI nomor 5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 dan Surat Edaran BI nomor 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 mencantumkan manajemen risiko pada delapan jenis risiko di industri perbankan.